Thursday, October 05, 2006

Museum Basoeki Abdullah


Pada waktu penobatan Ratu Yuliana tanggal 6 September 1948, Basoeki Abdullah berhasil menjadi pemenang sayembara melukis dengan mengalahkan 87 pelukis dari berbagai Negara di Eropa. Sejak saat itu namanya mulai dikenal oleh dunia internasional.

Dalam upaya memperkenalkan karya-karya lukisnya kepada masyarakat luas, Basoeki Abdullah mengadakan berbagai pameran baik di dalam maupun di luar negeri yang pada akhirnya membentuk dirinya menjadi salah satu seniman besar yang dimiliki bangsa Indonesia. Selain melukis, ia juga gemar mengoleksi benda-benda seni.

Museum Basoeki Abdullah pada awalnya merupakan rumah tinggal dan beralamat di Jl. Keuangan Raya No.19 Cilandak Barat, Jakarta Selatan.disini tersimpan sekitar 109 koleksi lukisan yang bertemakan alam dan manusia, foto-foto kegiatan Basoeki Abdullah semasa hidup sebagai pelukis terkenal, perpustakaan pribadi dengan ± 3.000 buku-buku, ruang tidur, serta berbagai benda-benda seni koleksi pribadi berupa patung keramik, perunggu dan fiber glass.

Terdapat juga koleksi lainnya seperti : topeng, senapan, samurai, dan aneka macam arloji.
Museum Basoeki Abdullah ini dibuka untuk umum pada hari Selasa s/d Kamis pukul 08.30-15.30, hari Jum'at s/d Minggu pukul 08.30-12.00, sedangkan pada hari Senin tutup. (Sumber : Sudin Pariwisata Kodya Jaksel)

Alamat :
Jl. Keuangan Raya No 19
Cilandak Barat, Jaksel

Musium TNI Satriamandala


Dari sekian banyak wisata yang ada di Jakarta Selatan, Pemerintah daerah masih tetap mempertahankan dan bahkan terus brupaya mengembangkan wisata belajar (study tour), tidak saja bagi kalangan pelajar tapi juga untuk kalangan masyarakat umum yang ingin mengetahui dari dekat sejarah negerinya.

Hal ini diwujudkan melalui museum, di Jakarta Selatan sendiri terdapat museum Satria Mandala yang terletak di Jalan Gatot Subroto yang merupakan daerah protokol di Ibukota. Di museum ini tersimpan berbagai benda bersejarah yang berkaitan dengan TNI seperti : aneka senjata berat maupun ringan, atribut ketentaraan, panji-panji dan lambang di lingkungan TNI, kendaraan perang seperti tank dan panser berbagai jenis pesawat terbang peninggalan masa lalu-satu diantaranya adalah pesawat Cureng yang pernah diterbangkan oleh Agustinus Adi Sucipto, serta tandu yang dipergunakan Panglima Besar Jenderal Sudirman saat bergerilya melawan penjajah.

Juga mendapat 74 diorama tentang peranan TNI dalam membela Negara dari masa ke masa. Satu diantaranya adalah diorama yang menggambarkan tentang pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Masih dalam kompleks MuseumTNI Satriamandala, juga terdapat, Musium Waspada Purbawisesa yang menampilkan diorama saat TNI bersama-sama rakyat menumpas gerombolan separatis D/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan pada tahun 60-an.

Fasilitas lainnya di Museum TNI Satriamandala ini antara lain : Taman Bacaan Anak, Kios Cinderamata, Kantin serta Gedung Serbaguan yang berkapasitas 600 kursi untuk berbagai kegiatan dan pertemuan. (Sumber : Sudin Pariwisata Kodya Jaksel)

Alamat :
Jl. Jend. Gatot Subroto No. 14-
Jakarta Selatan

Pasar Burung Barito


Bila keanekaragaman binatang di Ragunan hanya dapat dinikmati, maka di pasar burung Barito yang terletak disepanjang jalan Barito tidak jauh dari pasar mayestik, pengunjung dapat membeli aneka macam binatang yang ada di sana mulai dari burung Nuri, Kakatua impor, Cucarawa, Poksay, Beo, Tekukur,Merpati, Ayam Hutan, Monyet dan banyak lagi lainnya.

Disini terdapat sekitar 60 kios burung yang menjual berbagai macam burung berkicau yang terjamin kualitasnya. Dan kalau kita berkunjung di kios burung ini terasa berada di kawasan hutan alam yang penuh dengan bunyi kicauan bermacam-macam burung, paling tidak suasananya tidak jauh berbeda suasana di kebun binatang.

Di kawasan kios burung ini juga terdapat 16 warung makan dan sebanyak 14 kios buah. Di seberangnya berderet kios ikan hias, tanaman hias cafe', galeri, dan juga terdapat sanggar senam. Hampir semua kios baik kios burung, warung makan dan kios buah tertata sangat rapi. Tentang kebersihannya pasti sangat terjamin, sampai lalat pun tidak akan nempel karena di kios ini sudah ada tim kebersihan sendiri sebanyak 5 orang komplit dengan peralatan pendukungnya yaitu gerobag sampah.

Hal ini terbukti dengan diraihnya kembali piala Adipura untuk kedua kalinya. Untuk mempertahankan kebersihan di lingkungan kios dan keamanan, para pedagang dibebani biaya administrasi setiap bulan sekitar Rp.10.000,-. Hal ini dirasa tidak memberatkan sebab jaminan tersebut membuat para pedagang aman dan tentram, tertib, bersih, sehingga dapat turut berperan mensukseskan kebersihan bisa turut mepertahankan piala Adipura di bumi Jakarta Selatan. (Sumber : Sudin Pariwisata Kodya Jaksel)

Alamat :
Jl. Barito, Blok M
Jakarta Selatan

Hutan Kali Pesanggrahan


Ditengah perkembangan kota metropolitan Jakarta yang pesat, masih ada sebuah daerah yang tumbuh alami dan lindungi oleh penduduknya. Hutan Kali Pesanggrahan yang meliputi luas 40 hektar membentang sepanjang kilometer di tepian Kali Karang Tengah Lebak Bulus Jakarta Selatan adalah merupakan Peraih Penghargaan Lingkungan Jakarta Selatan tahun 2000 dan Penghargaan Internasional Dubai untuk kategori Best Practise pada Pebruari 2002.

Penduduk setempat menanamkan usaha mereka sebagai ?saung rest for our future? dimana disini terdapat tambak ikan, kobak (mata air) sebanyak 7 titik yang tidak pernah kering sepanjang tahun serta kebun sayuran. Ribuan jenis pepohonan hijau yang ditanam dengan baik adalah cerminan usaha penduduk Karang Tengah dalam rangka melestarikan kembali hutan mereka.

Selain pepohonan, di Hutan Kali Pesanggrahan terdapat juga satwa kera, berang-berang,ular, buaya dan tupai serta aneka burung yang pada saat ini sudah mulai langka di Jakarta. Adalah seorang penduduk bernama Chaeruddin, ketua Kelompok Tani ?Sangga Buana? yang secara terus menerus dan konsisten melestarikan alam yang sangat berharga ini ditengah hiruk pikuk kehidupan kota metropolitan Jakarta.

Potensi Hutan Kali Pesanggrahan antara lain :

Alam yang sejuk diantara pepohonan rindang di sepanjang tepian Kali Pesanggrahan Karang Tengah merupakan tempat yang cocok untuk kegiatan wisata alam, seperti berjalan menyusuri tepian kali atau duduk-duduk di bawah saung sambil menikmati suasana diantara kesejukan udara tanpa polusi.

Dapat disaksikan pula secara langsung aktivitas masyarakat seperti bercocok tanam, berternak kambing, budidaya ikan dalam tambak atau berdagang. Disamping itu dapat pula disaksikan kegiatan masyarakat dalam mendaur ulang sampah menjadi kompos dengan cara yang sangat sederhana.

Bagi yang gemar memancing dengan nuansa alam terbuka, tersedia sarana memancing yang sangat menarik. Hasil dari pancingan tersebut dapat langsung dimasak sendiri menurut selera atau dihidangkan menjadi masakan khas desa setempat.

Terdapat pula kobak (mata air) yang tidak pernah kering sepanjang tahun dan merupakan asal muasal nama dari desa Karang Tengah serta berbagai benda pusaka peninggalan kerajaan Pajajaran seperti badik Sangga Buana yang diperkirakan sudah berumur ± 700 tahun

Di desa Karang tengah ini dapat disaksikan atraksi seni bela diri silat aliran ?Jalan Paham? yang merupakan satu-satunya jenis silat yang tidak pernah diperbandingkan dalam kegiatan olah raga karena aturan mainnya yang berbeda dengan jenis silat lainnya. Seni bela diri silat aliran Jalan Paha mini merupakan seni budaya asli masyarakat Karang Tengah. (Sumber : Sudin Pariwisata Kodya Jaksel)

Alamat :
Karang Tengah, Lebak Bulus
Jakarta Selatan

Museum Harry Darsono


Harry Darsono merupakan salah satu perancang terkenal Indonesia yang juga merancang berbagai busana bagi wanita ternama dunia; diantaranya pernah merancang busana yang dipesan oleh Putri Diana. Ciri rancangan Harry adalah unik, penuh hiasan bordir, payet, mutiara atau batu permata.

Museum Harry Darsono menempati rumah berlantai tiga dengan bangunan gaya baroque yang berlokasi di Jl. Cilandak Tengah No. 71 Jakarta Selatan. Di museum ini tersimpan berbagai koleksi adi busana hasil rancangan Harry Darsono sejak tahun 1970. Harry membagi koleksinya menjadi pembuatan dan penjualan busana wanita, seni berbusana, busana panggung dan busana yang tengah menjadi trend pada saat ini.

Dapat pula disaksikan lukisan pada kain sutera, lukisan bordir, tenun ikat, bahan-bahan berkualitas untuk interior dan rancangan busana sutera serta berbagai koleksi kainsutera dari Cina, Korea dan Eropa. Di museum ini terdapat ruang tamu yang nyaman dengan hiasan kain sutera dan dipadu dengan alunan suara musik klasik. Selain itu terdapat pula ruang cinema dan perpustakaan. (Sumber : Sudin Pariwisata Kodya Jaksel)

Alamat :
Jl. Cilandak Tengah No. 71
Jakarta Selatan

Kampung Asri Banjarsari


Disamping wisata belanja tersebut, Jakarta Selatan masih memiliki potensi wisata alam seperti Kampung Asri Banjarsari yang awal keberadaan Kampung Asri Banjarsari dipelopori oleh Kelompok Wanita Tani Dahlia dan Kelompok PKK yang diketuai Ny. Harini Bambang, dengan tujuan menciptakan kawasan pemukiman yang ramah lingkungan , hijau, teduh, sehat, indah, dan produktif. Kawasan Kampung Asri Banjarsari merupakan daerah pemukiman yang terdiri dari 8 Rukun Tetangga (RT), dihuni oleh 294 keluarga dan berlokasi di Jl. Banjarsari Kelurahan Cilandak Barat, Jakarta Selatan.

Walaupun sebagian besar masyarakatnya adalah pegawai/pekerja, namun mempunyai kepedulian yang besar terhadap tanaman produktif. Mereka bercocok taman dalam pot yang berfungsi ganda yaitu sebagai tanaman hias dan sekaligus bermanfaat sebagai tanaman obat di setiap rumah tangga.

Pada hari-hari tertentu masyarakat mengadakan kerja bakti dengan cara membersihkan seluruh kampung dari sampah dan kemudian mendaur ulang sampah tersebut menjadi kompas atau bahkan dijadikan cinderamata seperti : kertas surat, amplop dan tas. Aktifitas keseharianmasyarakat saat mendaur ulang sampah menjadi kompas atau menjadikannya cinderamata, membudidayakan tanaman dalam pot, mebuat manisan buah-buahan atau membuat sirup belimbing dan pandan dapat disaksikan secara langsung di Kampung Asri Banjarsari ini. Disini terdapat berbagai jenis tanaman yang berfungsi untuk badan obat-obatan tradisional. Tanaman obat keluarga (toga) ini juga bermanfaat sebagai sarana konservasi. Lebih dari itu, dapat disaksikan pula cara menanam serta mengenali jenis-jenis tanaman obat.

RUMAH SEHAT. Berfungsi sebagai penginapan, memiliki 9 kamar dengan dilengkapi kamar mandi terpisah. Masing-masing kamar dapat diisi oleh 1-2 orang. Di rumah sehat ini dapat dijumpai berbagai jenis tanaman produktif yang ditanam dalam pot, teratur rapi dari lantai dasar hingga lantai empat sehingga menjadikan suasananya sejuk dan asri. (Sumber : Sudin Pariwisata Kodya Jaksel).

Alamat : Jl. Banjarsari, Clandak Barat, Jakarta Selatan.

Wednesday, October 04, 2006

Kebon Binatang Ragunan, Sarana Rekreasi Keluarga


Kebun Binatang Ragunan, Sarana Rekreasi KeluargaSalah satu objek wisata di Jakarta yang banyak mendapat perhatian pengunjung adalah Kebun Binatang Ragunan (KBR). Sesuai namanya KBR terletak di bilangan Ragunan, tak jauh dari Pasar Minggu, Jakarta Selatan. KBR banyak dikunjungi orang, terutama anak-anak
Biasanya puncak kedatangan pengunjung terjadi pada hari raya ldul Fitri. Selama dua hari itu puluhan ribu pengunjung datang ke sini merayakan kegembiraan bersama sanak keluarga mereka.

Sebagai sarana rekreasi keluarga KBR tergolong ideal. Apalagi KBR memiliki luas sekitar 130 hektar. KBR dilengkapi banyaknya pepohonan, udara yang segar, dan telaga yang besar. Sampai saat ini jumlah koleksi satwa KBR mencapai ratusan spesies, termasuk beberapa jenis satwa langka.

KBR mempunyai berbagai fasilitas, seperti kereta api dan delman. Selain itu ada atraksi hewan, antara lain gajah tunggang dan onta tunggang.Pengunjung yang berminat bisa menaiki kedua jenis hewan ini dengan membayar biaya tertentu. Ada juga sirkus dan akrobat hewan, misalnya burung menarik gerobak, linsang bermain bola, dan ular bercanda.

Menurut definisi ICOM ( International Council of Museums ) atau Dewan Museum Internasional, kebun binatang merupakan salah satu bagian dari museum. Sebagai museum, kebun binatang menjadi objek pendidikan sekaligus objek wisata yang diandalkan.

Sebagai objek yang rekreatif-edukatif memang keberadaan KBR sudah mampu menghibur masyarakat kelas bawah Indonesia. Namun bila dipandang dari aspek pariwisata, KBR belum memiliki kelas yang berkualitas. Areal di KBR memang luas. Ini membuat pengunjung betah untuk berlama-lama di sini. Makan siang bersama di atas tikar, dinaungi teduhnya pepohonan dan semilirnya angin. Namun terbayangkah bila hujan turun? Pengunjung akan menggeiar tikar di setiap lorong atau sudut ruangan yang aman dari jangkauan hujan. Akibatnya pengunjung lain akan terganggu kenyamanannya.

Kandang-kandang hewan juga sangat memprihatinkan, terkesan kotor dan kurang terawat. Jeruji-jeruji besi, misalnya, sudah keropos dan sangat terbuka sehingga pengunjung dapat dengan leluasa menyodorkan atau melemparkan makanan kepada satwa-satwa itu. Akibatnya banyak hewan sakit perut karena menelan plastik atau ”makanan” lain yang tidak dapat dicerna perut. Bahkan sejumlah hewan mati tragis karena diusili pengunjung.Penataan kandang pun belum bagus, terutama di kandang beruang dan landak.

Ini karena hewan-hewan tersebut ditempatkan agak jauh ke bawah. Kita tidak usah heran kalau manajemen KBR kurang baik, karena KBR berada di bawah pengawasan pemda DKI Jakarta. Selain dananya terbatas karena berasal dari APBD—tenaga-tenaganya pun berasal dari golongan rendahan.

Untung di saat kesulitan dana, datang dedikasi dari seorang penyayang binatang berkebangsaan asing. Dia menyumbang dana miliaran rupiah untuk membangun pusat primata di KBR. Sebagai salah satu kebun binatang atau taman margasatwa besar di Asia, KBR bukan hanya menipakan tempat memamerkan segala jenis satwa. KBR juga berfungsi menangkarkan satwa-satwa langka dan melakukan konservasi terhadap berbagai jenis tumbuhan. Untuk ukuran kota Jakarta yang panas, adanya kebun raya mini di KBR amat membantu peresapan air.

Brosur
Meskipun didatangi banyak pengunjung domestik, bukan berarti KBR tidak mempunyai kekurangan. Ketiadaan brosur atau leaflet amat dirasakan pengunjung yang baru pernah datang ke sana. Seharusnya ada brosur lengkap dengan denah atau tata letak kandang-kandang satwa. Brosur diberikan pada saat pengunjung membeli karcis masuk.Berbagai fasilitas juga kurang diperhatikan pengelola KBR. Pedagang makanan dan minuman terlihat semrawut. Begitupun pedagang cenderamata, buah-buahan, dan asongan. Sepertinya tidak dikoordinasikan dengan baik oleh pengelola KBR.

Untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota wisata, ada beberapa langkah yang harus ditempuh pengelola KBR. Pertama, bekerja sama dengan pihak swasta atau investor. Karena berbagai upaya pembenahan memerlukan banyak biaya, KBR perlu melakukan terobosan. Nantinya diharapkan KBR dikelola secara profesional oleh orang-orang yang mengerti akan bidangnya.

Kedua, memperbarui kandang. Kandang harus dibuat semirip mungkin dengan habitat aslinya. Maka pembuatan hutan buatan harus dikerjakan secara bersama-sama oleh seniman, teknolog, dan ilmuwan. Pada setiap kandang monyet, misalnya, harus dibuatkan pohon berikut fasilitas permainan (tali, ban mobil).

Selain itu kandang harus tertutup oleh kaca pada bagian depan agar pengunjung tidak bisa mengganggu hewan. Dengan demikian akan muncul rasa perikebinatangan. Kandang pun harus dibuat sejajar dengan penglihatan agar pengunjung tidak perlu bersusah payah melongok ke bawah mencari-cari suatu hewan.

Ketiga, memperbarui gedung. ini dimaksudkan agar pengunjung tidak perlu terganggu hujan. Untuk itu gedung harus mempunyai ruangan tertutup. Mengingat banyaknya hewan koleksi, maka perlu dibangun beberapa gedung. Misalnya Gedung A berisi primata, Gedung B berisi reptil, Gedung C berisi unggas, dan seterusnya. Antara setiap gedung dihubungkan dengan lorong beratap.

Keempat, mengembangkan atraksi hewan. Perlu ditambah dengan atraksi ”saat memberi makan hewan”. Setiap atraksi harus dengan jadwal yang tidak bersamaan. Kelima, membuat fasilitas baru, seperti kereta udara dan safari malam. Penambahan fasilitas dimaksudkan agar pengunjung mempunyai banyak pilihan.

Keenam, menghidupkan bagian bimbingan atau edukasi. Kegiatan untuk anak-anak balita dan pelajar disediakan tersendiri. Mereka harus dibimbing oleh tenaga profesional. Kegiatan mereka harus rekreatif dan edukatif. Misalnya anak-anak disuruh memegang-megang, mengelus, menyentuh, dan bermain bersama hewan-hewan jinak seperti kambing, kuda poni, kura-kura, dan orang utan.Kecuali itu harus tersedia komputer dengan layar sentuh dan telepon bersuara. Dengan demikian anak-anak bisa mengetahui banyak informasi tentang asal hewan, makanan hewan, dan kebiasaan suatu hewan. Ketujuh, membuat karcis masuk semenarik atau seartistik mungkin, karcis dengan gambar yang beraneka ragam akan menjadi buruan para kolektor.

Untuk itu karcis harus dicetak dengan berbagai gambar hewan yang berbeda dan kalau mungkin hewan langka khas Indonesia. Kedelapan, menambah koleksi satwa, misalnya gorila, kura-kura raksasa, pinguin, dan beruang kutub.Pengelola KBR juga harus memperhatikan papan penunjuk yang informatif. Mengingat KBR sangat luas, papan penunjuk harus banyak dan jelas sehingga pengunjung tidak merasa kesulitan untuk mencari lokasi tertentu.

Memang langkah untuk kemajuan bukan itu saja. Masih ada langkah-langkah lain. Yang pasti KBR harus memiliki tenaga SDM yang handal, yakni mempunyai mimpi untuk memajukan KBR, mempunyai keuletan untuk menjual KBR, mempunyai keluwesan untuk mempromosikan KBR, dan mempunyai kreativitas untuk melebarkan sayap KBR. Jika ini terlaksana bukan tidak mungkin KBR akan menjadi salah satu primadona pariwisata karena Indonesia merupakan salah satu negara terkaya faunanya di seluruh dunia (Sumber : Harian Sinar Harapan)

Alamat :
Kelurahan Ragunan-
Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan

Situ Babakan, Pusat Perkampungan Betawi


Situ Babakan, Pusat Perkampungan BetawiSitu Babakan yang berlokasi di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan dicanangkan menjadi Pusat Perkampungan Betawi bersamaan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Jakarta ke-474.

Perkampungan Budaya Betawi tersebut memiliki luas 165 hektar termasuk Situ Babakan dan Situ Mangga Bolong dengan batas fisik, bagian utara berbatasan dengan Jalan Moch Kahfi II; bagian timur berbatasan dengan Jalan Putera, Jalan Mangga Bolong Timur; bagian selatan berbatasan dengan Jalan Tanah Merah, Jalan Srengseng Sawah, Jalan Puskesmas; sementara bagian Barat berbatasan dengan Jalan Moch Kahfi II.

Untuk dapat menuju Situ Babakan, pengunjung akan melewati lingkungan pemukiman dan Kebun Rakyat. Perkampungan ini terdiri dari empat rukun warga (RW) yang didiami 3.000 kepala keluarga dimana sebagian besar adalah orang asli Betawi yang sudah turun-temurun tinggal di daerah tersebut. Sebagian lagi berasal dari daerah lain, antara lain Jawa Barat dan Kalimantan yang sudah lebih dari 30 tahun tinggal di tempat ini, pengunjung akan menjumpai gaya arsitektur, dialek bahasa, seni tari, seni musik, seni drama dan makanan khas Betawi, serta masih banyak lagi kekayaan seni budaya Betawi lainnya.

Sampai saat ini Situ Babakan baru berfungsi sebagai badan air irigasi, pemancingan, berenang dan tempat berperahu, tetapi pada waktu mendatang Situ Babakan direncanakan akan dikembangkan dan dikelola sebagai obyek wisata. Situ Babakan akan menjadi salah satu faktor pendukung kebudayaan Betawi agar tetap eksis, lestari, dan terus berkembang sehingga mampu berbicara di tengah percaturan kompetisi budaya daerah-daerah lain di Jakarta sebagai Ibu Kota negara. (Sumber : Harian Kompas)

Alamat :
Situ Babakan, Srengseng Sawah
Jakarta Selatan.